Kelebihan SPADA

Blended Learning muncul sebagai salah satu konsep pedagogis yang populer di awal tahun 2000 an, karena tidak didukung oleh teknologi yang canggih maka sistem perkuliahan ini kurang berkembang, namun akhir-akhir ini dengan dukungan berbagai teknologi yang ada, maka sistem perkuliahan berbasis Blended Learning dapat berkembang, bahkan diprediksi akan semakin populer (Graham, 2006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Brent dengan menggunakan sistem perkulian Blended Learning didapatkan hasil belajar yang lebih baik, proses pembelajaran menjadi lebih aktif, dan dapat dijadikan model baru untuk pendidikan sains (Brent R. Stockwell).

Perkuliahan yang selama ini diberikan kepada mahasiswa mayoritas hanya dengan menggunakan ceramah, presentasi, dan bersumber dari buku teks (bahan ajar), serta mahasiswa   ditugaskan untuk membaca buku tersebut di rumah, hal ini dirasa sangat tidak efektif, karena harus membawa buku kemana-mana, dan pembelajaran tidak menarik (Handelsman, 2007). Ketidak efektifan tersebut dapat dibuktikan dari dua indikator, indikator pertama berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar beberapa mata kuliah yang berupa kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah untuk beberapa tahun terakhir pada Universitas Pasundan masih belum mengembirakan, sedangkan indikator kedua yaitu berdasarkan kepada hasil wawancara dengan mahasiswa pada Universitas Pasundan, diperoleh hasil bahwa perkuliahan dengan cara presentasi, dan membaca buku di kelas dan di rumah, tidak menarik dan cenderung menjenuhkan. Pandangan terhadap keterbatasan pendekatan pembelajaran selama ini dengan menekankan kepada buku teks dan ceramah, serta presentasi, telah membuka jalan untuk munculnya metode baru berupa pembelajaran campuran (Blended Learning) (Handelsman, 2007).

Pembelajaran online merupakan pilihan karena ada berbagai media pembelajaran gratis seperti Moodle, Edmodo, dan MOOCs sebagai sarana untuk melengkapi materi yang diajarkan di dalam kelas sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Reich, 2015). Namun apabila hal tersebut hanya dipelajari di rumah tanpa adanya pembahasan terhadap materi tersebut itupun tidak akan efektif sebagai salah satu pendekatan pembelajaran yang baru (Glazer, 2012,  Reich, 2015). Paradigma Blended Learning merupakan tools yang berharga yang bisa melengkapi pembelajaran tradisonal yang terjadi selama ini (Glazer, 2012). Tugas-tugas dapat disusun lebih kreatif dan inovatif serta lebih atraktif dan dapat dilengkapi intruksi audiovisual yang makin menambah antusias mereka untuk mengikuti perkuliahan (Kagohara, 2010). Selain itu dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat dari waktu ke waktu, hal tersebut berimplikasi kepada perkembangan Blended Learning (Allen, Seaman, Poulin, & Taylor Straut, 2016).

Blended Learning dianggap memiliki beberapa keunggulan dibandingkan tatap muka tradisional, karena Blended Learningmemiliki fleksibilitas yang tinggi dan dapat diakses untuk belajar di mana saja, kapan saja,  tanpa memerlukan kehadiran fisik seseorang di lokasi kampus (Means, Toyama, Murphy, Bakia, & Jones, 2009; Van Doorn & Van Doorn, 2014). Dengan Blended Learning semua pihak yang terlibat dapat perkuliahan atau pembelajaran dapat berinteraksi secara bersama-sama, yaitu antara mahasiswa dengan dosen, dosen dengan dosen, dan mahasiswa dengan mahasiswa lainnya, adanya penggambaran struktur materi yang jelas dan saling berhubungan, juga dapat belajar secara inidividu dengan mandiri di mana pun dan kapanpun tanpa ada hambatan. (Means et al., 2009).

Blended Learning memungkinkan kita untuk melakukan pembelajaran jarak jauh tanpa harus datang langsung ke kampus, sehingga ketika melakukan perkuliahan secara tatap muka di kampus sudah ada materi yang dipelajari sehingga perkuliahan menjadi lebih terarah, selain itu dengan menerapkan sistem Blended Learning, mahasiswa mendapatkan waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga dan mengerjakan pekerjaan yang ada di tempat kerjanya atau di tempat lain. Hal tersebut akan mengurangi biaya untuk belajar, peluang komunikasi antara dosen dan mahasiswa menjadi lebih banyak dengan progres pembelajaran dan tugas menjadi lebih jelas, waktu belajar tidak diatur secara ketat, sehingga ketika ada waktu luang baru membuka sistem pembelajaran, mahasiswa dapat mengelola waktu secara efektif tanpa melupakan kewajiban untuk memenuhi tuntutan hidup (Kilzilcec, Pérez-Sanagustín, & Maldonado, 2017; Moore & Kearsley, 2005)

Blended Learning jika dilakukan dengan baik akan memiliki keuntungan ganda yaitu dapat memberikan manfaat pembelajaran secara online dan dapat mengembangkan aspek sosial dan pengalaman yang lebih kaya untuk mengembangkan semua kompetensi yang ada pada diri mahasiswa   dalam bentuk pembelajaran tatap muka (Van Doorn & Van Doorn, 2014). Sistem Blended Learning memiliki fleksibilitas yang tinggi dengan tetap berorientasi kepada kebijakan bahwa mereka harus juga menghadiri kelas secara nyata, karena ada beberapa hal yang tidak dapat diterima oleh mahasiswa  melalui pembelajaran online, sehingga kekurangan dan kelebihan kedua sistem pembelajaran dapat diminimalisir (Aldhafeeri 2015; Artino & Jones, 2012).

Graham (2006) berpendapat bahwa sebagai kombinasi pembelajaran tradisional dalam bentuk tatap muka dan onlineBlended Learning memungkinkan untuk lebih interaktif dan reflefektif dalam membangun pengetahuan. Blended Learningmemungkinkan pembelajaran dengan format yang banyak, mengarsipkan diskusi dan topik yang dibahas, dosen dapat lebih berperan sebagai fasilitator, dan dapat menggunakan berbagai sumber dengan baik (Mebane, Porcelli, Iannone, Attanasio, & Francescato 2008).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chen dan Jones pada tahun 2007 bahwa Blended Learning lebih efektif dan memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembelajaran tradisonal dalam bentuk tatap muka, selain itu dengan sistem pembelajaran ini intruksi pembelajaran menjadi lebih jelas dan terarah, sehingga sistem ini memperoleh apresiasi yang lebih tinggi dan kemampuan analisis mahasiswa  menjadi lebih baik  (Chen dan Jones, 2007). Akkoyunlu dan Soylu (2008) meneliti pandangan mahasiswa  pada Blended Learning  yang dihubungkan dengan gaya belajar mereka. Mereka menunjukkan bahwa pandangan mahasiswa  pada Blended Learning  lebih positif dengan tingkat 8,44 dalam skala 1 sampai 10, dengan 6 adalah nilai terendah dan 10 adalah yang tertinggi. Selanjutnya, Akkoyunlu dan Soylu (2008) melakukan penelitian lanjutan dengan membandingkan kelas online murni dan kelas tradisional murni, hasilnya menunjukan bahwa kelas online murni tidak lebih baik daripada kelas tradisonal murni, bahkan dari presepsi mahasiswa , mereka lebih memilih kelas tradisonal dibandingkan dengan kelas online murni (Akkoyunlu dan Soylu, 2008; Chen dan Jones, 2007).

López-Pérez et. al. (2011) melakukan penelitian terhadap 1431 persepsi mahasiswa yang berpartisipasi dalam sistem Blended Learning. Hasil temuan menunjukan bahwa mahasiswa memberikan persepsi positif pada Blended Learning. Selain itu temuan yang didapatkan yaitu bahwa Blended Learning  mengurangi tingkat drop-out dan menaikkan jumlah mahasiswa   yang lulus ujian (López-Pérez et. Al., 2011). Chandra dan Fisher (2009) telah melakukan penelitian tentang persepsi siswa SMA yang menggunakan sistem Blended Learning . Temuan yang didapatkan yaitu pembelajaran berbasis web itu nyaman, mudah diakses, kebebasan individu untuk belajar lebih baik, dapat tercipta interaksi yang positif diantara teman sejawat ketika melakukan pembelajaran berbasis web, pembelajaran lebih jelas, mudah diikuti dan mudah dipahami, namun untuk diskusi yang rumit dan membutuhkan penjelasan yang panjang mereka memberikan suatu pandangan bahwa dengan tatap mukalah diskusi yang rumit itu dapat diselesaikan (Chandra dan Fisher, 2009). Semua temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran dalam bentuk tatap muka dianggap sebagai salah satu bagian yang sangat penting dari pendidikan, sehingga harus dilakukan untuk melengkapi proses pembelajarn online tadi. Dari hasil studi tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan sistem Blended Learning  kekurangan pembelajaran berbasis web dapat diselesaikan.

Smyth et. Al. (2012) melakukan penelitian kualitatif pada tahun pertama mahasiswa pascasarjana di Kampus Keperawatan dan Kebidanan di Irlandia. Tujuan penelitian yang dilakukan untuk menemukan manfaat dan tantangan dari Blended Learning  (Smyth et. Al., 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Blended Learning  memiliki tingkat aksesibilitas dan fleksibilitas yang tinggi serta membantu mereka untuk belajar dan membuat perencanaan pembelajaran mereka sendiri (Smyth et. Al., 2012). Selanjutnya, peserta memberikan respon bahwa dengan menggunakan sistem perkuliahan Blended Learning konten pembelajaran yang mereka terima menjadi lebih kaya (Smyth et. Al., 2012).

Studi lain tentang persepsi terhadap Blended Learning  dilakukan oleh So & Brush (2008) dengan subjek penelitian yaitu 48 mahasiswa pascasarjana, adapun hal yang diteliti berhubungan dengan tingkat kepuasan, kehadiran sosial dan pembelajaran kolaboratif. Dalam temuan studi ini, dengan menggunakan sistem perkuliahan Blended Learning kolaborasi antarmahasiswa menjadi lebih tinggi, tingkat kepuasan menjadi meningkat, dan kehadiran sosial mereka menjadi lebih baik (So dan Brush, 2008). Dalam studi ini juga ditemukan bahwa jarak psikologis dan interaksi sosial mendapat peran penting dalam pembelajaran kolaboratif secara online. Secara umum, struktur program, dukungan emosional dan media komunikasi diidentifikasi sebagai faktor yang paling penting dan berhubungan dengan persepsi mahasiswa. Semua hal itu harus dibangun secara baik dalam bentuk pertemuan di dunia nyata, sehingga pembelajaran dalam bentuk Blended Learning mutlak harus dilakukan (So dan Brush, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hughes (2007), yang bertujuan untuk mengukur efektivitas Blended Learning terhadap tingkat partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan dan tingkat retensi mereka, serta tingkat drop-out. Dia melakukan penelitian tindakan terhadap mahasiswa program sarjana pada tahun ketiga dengan menggunakan sistem Blended Learning. Temuan dalam penelitian ini yaitu tingkat proaktif mahasiswa dalam menghadiri perkuliahan menjadi lebih tinggi dan tingkat retensi mahasiswa meningkat secara signifikan tanpa usaha yang ekstra dari dosen, serta tingkat drop-out mata kuliah menjadi lebih rendah, sehingga dengan menggunakan sistem ini dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Penelitian selajutnya tentang Blended Learning yaitu dilakukan oleh Melton et. Al. (2009), beliau mempelajari efektivitas Blended Learning yang diukur melalui kepuasan mahasiswa dan prestasi mahasiswa. Desain penelitian menggunakan kuasi-eksperimental, sedangkan yang diukur yaitu nilai mahasiswa , tingkat kepuasan, dan hasil evaluasi dosen.  Hasil studi menunjukan bahwa sistem Blended Learning lebih memuaskan jika dibandingkan dengan sistem kelas tradisional, nilai mahasiswa meningkat signifikat pada posttest, dan hasil evaluasi dari semua komponen menunjukan bahwa kelas Blendedlebih baik daripada kelas tradisonal, sehingga penggunaan sistem ini sangat efektif untuk diterapkan (Melton et. Al., 2009).

Akyuz & Samsa (2009) meneliti tentang efektivitas penggunaan sistem Blended Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian ini dilakukan pada 44 mahasiswa yang belajar di departemen komputer dan teknologi instruksional pendidikan Universitas Ankara. Ini adalah penelitian eksperimental dengan pre dan post test sistem (Akyuz dan Samsa, 2009). Mereka mengukur kemampuan berpikir kritis mahasiswa dengan Uji Watson-Glaser Critical Thinking Appraisalsatu kali sebelum lima minggu kemudian menggunakan Blended Learning dan sekali setelahnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai pretes dan postes, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan sistem Blended Learning sangat efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa (Akyuz & Samsa, 2009).

Sebuah studi dilakukan Deliagaoglu & Yildirim (2008) yang bertujuan untuk membandingkan efektivitas Blended Learning dengan pembelajaran tradisional. Mereka menggunakan model MOLTA untuk merancang pembelajaran dan dilakukan evaluasi lebih lanjut pada prestasi mahasiswa , retensi pengetahuan, sikap dan kepuasan di kedua lingkungan belajar baik tradisional maupun Blended. Studi mereka menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki tingkat pencapaian yang berbeda, dengan keunggulan pada kelas Blended, begitu pula untuk tingkat retensi pengetahuan mereka, serta mahasiswa   memiliki sikap positif dan kepuasan yang lebih tinggi terhadap sistem Blended, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan sistem Blended Learning  sangat efektif untuk diterapkan (Deliagaoglu dan Yildirim, 2008).

El-Deghaidy & Nouby (2008) melakukan studi penggunaan sistem Blended E-learning Cooperative Approach (BeLCA) terhadap prestasi dosen pre-service, sikap dan tingkat kegotong-royongan. Mereka melakukan penelitian kuasi-eksperimental pada dosen pre-service pada dua puluh lima program studi pada sebuah universitas di Mesir (El-Deghaidy dan Nouby, 2008). Temuan mereka menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa dalam kelompok Blended secara signifikan lebih tinggi daripada mahasiswa  di kelompok kontrol. Selain itu, mereka menemukan bahwa sikap mahasiswa terhadap Blendedsecara signifikan lebih tinggi pada kelompok tradisonal. Sikap mahasiswa  terhadap kegotong-royongan, tidak ada perbedaan yang signifikan ditemukan antara kedua kelompok, El-Deghaidy dan Nouby menyimpulkan bahwa sistem BlendedLearning sangat efektif untuk meningkatkan sikap dan prestasi mahasiswa  . (El-Deghaidy dan Nouby, 2008).

Miyazoe dan Anderson (2010) mempelajari efektivitas forum, blog dan wiki dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) dengan sistem Blended Learning  di sebuah universitas di Tokyo, Jepang. Mereka melakukan penelitian di tiga kelas Blended. Untuk mendapatkan persepsi mahasiswa meraka menggunakan alat penelitian berupa angket, wawancara dan tugas tertulis (Miyazoe dan Anderson, 2010). Dalam analisis kuantitatif ditemukan bahwa wiki disukai sebagai favorit di antara forum dan blog oleh mahasiswa . Dalam analisis kualitatif ditemukan bahwa mahasiswa   memiliki perasaan positif pada Blended Learning seperti baru, mudah dan menyenangkan sehingga sistem Blended Learning  dianggap sistem yang tepat untuk melakukan pembelajarn (Miyazoe dan Anderson, 2010).

Woltering et. Al. (2009) melakukan sebuah studi yang bertujuan untuk mengetahui apakah sistem Blended Problem Solving Learning (BPSL) dalam pendidikan kedokteran dapat meningkatkan proses pembelajaran dan motivasi serta tingkat kerjasama mahasiswa. Mereka menggunakan survei untuk membandingkan pembelajaran berbasis masalah tradisional dengan Blended Problem Solving Learning (BPSL). Survei ini terdiri dari delapan kategori (Woltering et. al., 2009). Temuan mereka menunjukkan bahwa di antara kategori ini, ada perbedaan yang signifikan antarkelompok dalam motivasi, kepuasan dan keuntungan pembelajaran subjektif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem Blended Problem Solving Learning(BPSL) dapat meningkatkan motivasi mahasiswa, kepuasan mahasiswa  dan hasil belajar subjektif (Woltering et. Al., 2009).